Bagaimana Menulis Opini dan Hikmah Republika?
Materi :
Pengalaman Menulis Opini dan Hikmah Republika
Narasumber : Asep Sapa’at
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Ketika
kita menulis, tentu ingin juga dibaca oleh orang lain. Apalagi bila tulisan
kita itu tentang ilmu, atau hal lain yang dapat bermanfaat juga untuk orang
lain. Oleh karena itu, perlu kiranya tulisan kita dipublikasikan.
Sebagai
pemula, kita perlu belajar banyak tentang bagaimana agar tulisan kita bisa
diterima oleh pembaca dan bisa terbit di media cetak. Pada kesempatan kali ini,
kita akan mendapat ilmu dari narasumber kita tentang “Pengalaman Menulis Opini
dan Hikmah Republika.”
Dalam
Kamus Besar Bahasa Indonesia yang diterbitkan Balai Pustaka, Opini disebutkan sebagai ”pendapat;
”pikiran,” atau ”pendirian,” Menulis opini berarti menyebar luaskan
gagasan. Dengan menulis opini, maka seseorang berarti mentransfer ide dan
gagasannya ke ruang publik. Ia masuk ke ranah publik, dan berusaha mempengaruhi
publik, dengan tujuan akhir: gagasannya diterima atau juga diperdebatkan. Dan
ia siap untuk itu.
Omjay
membuka sesi kuliah:
Assalamu
alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Selamat
siang guru hebat Indonesia.
Siang
hari ini kita akan mendapatkan materi tambahan dari bapak Asep Sapaat tentang pengalaman
beliau menulis Opini dan Hikmah di Republika. Kepada Pak Asep, omjay
persilahkan manyampaikan materinya
Wa'alaikumussalam
Warahmatullahi Wabarakatuh, Om Jay.
Terima
kasih atas kesempatan yang telah diberikan, Om Jay. Izin memperkenalkan diri.
Nama saya Asep Sapa'at, tubuh sehat,
jiwa kuat, cita-cita ingin jadi orang bermanfaat.
Dengan
semangat untuk saling belajar, saya ingin sharing tentang pengalaman menulis di
rubrik opini dan hikmah Republika.
Profile
Basic
Information
Name : Asep
Sapa’at
Date
of birth : Garut, 23 Mei 1983
Educational
History
- TK Pertiwi - Garut
- SDN Sukamaju 1 Garut, Jawa Barat
- MTsN 1 Garut, Jawa Barat
- SMAN 1 Garut, Jawa Barat
- Faculty of Mathematics and Science, Universitas Pendidikan Indonesia (2001-2005)
- Program of Mathematics Education, Universitas Terbuka (2018 - ...)
Professional
History
- Trainer of Education, Lembaga Pengembangan Insani, Dompet Dhuafa (2006 – 2012)
- Curriculum Development Specialist, Universitas Bina Nusantara (2008)
- Manager of Makmal Pendidikan, Dompet Dhuafa (2008-2012)
- Director of Sekolah Guru Indonesia, Dompet Dhuafa (2012-2014)
- Researcher in Research and Development of Klinik Pendidikan MIPA (2017-2019)
- Consultant for Teacher Professional Development Program in Various School Indonesia
- Master Teacher in Sekolah Guru Indonesia (2012-Now)
- Ghost writer and Independent writer
- Lecturer in Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Daarul Fattah (September 2019 - ...)
International
Experience
- Speaker of Parallel Session on 2nd East Asia International Conference on Teacher Education Research The Hongkong Institute of Education (2010)
- Speaker of Parallel Session on 16th International Conference Education Universiti Brunei Darussalam (23-26 Mei 2011)
- Hot Seat Speaker Online Learning Community for Teacher Professional Development (OLC4TPD) Edith Cowan University, Perth Australia (2009)
Book
- Sop Menjadi Guru Jika Tidak....
(Penerbit, Tangga
Pustaka)
- Setia Mengabdi Meski Kelas Beratapkan Langit
(Penerbit, Dompet
Dhuafa)
- Peluh Penawar Rindumu Indonesia
(Penerbit, Dompet
Dhuafa)
- Beta Guru Sudah
(Penerbit, Dompet
Dhuafa)
- Guru 12 Purnama
(Penerbit, Dompet
Dhuafa)
- Murid Pasif Pangkal Guru Kreatif
(Penerbit, Dompet
Dhuafa)
Popular
Writing
- Hundreds of articles published in local and national mass media (Republika, Republika Online, Teachers Guide Magazine, Lampung Post, Harian Singgalang, Majalah 1000 Guru, Berita Satu Online, Tribun Sumsel, Radar Bogor, Jurnal Pendidikan DD)
- Articles written as contributor for Suprarational Magazine
Award
- Top of Contributor Online Learning Community for Teacher Professional Development (OLC4TPD) Edith Cowan University, Perth Australia (2009)
Pertama,
saya awali dengan penjelasan tentang mengikat
makna. Istilah mengikat makna dipopulerkan oleh almarhum Hernowo. Segala hal yang berkaitan
dengan aktivitas menulis sebagai cara untuk memaknai hal-hal yang bisa kita
lihat, dengar, rasakan, renungi.
Setiap
orang memiliki hambatan menulis yang
berbeda-beda. Ada hambatan yang disebabkan:
- kesulitan mengalirkan gagasan,
- ada juga karena faktor mood
- ada pula yang disebabkan karena faktor penguasaan bahasa serta keterampilan menulis. Namun hakikatnya, setiap diri kita bisa menulis jika konsisten mau belajar. Hal yang paling mudah ditulis adalah sesuatu yang dekat dengan diri kita.
Sebelum
saya dapat mempublikasikan tulisan di media masa, saya belajar menulis di buku
harian. Menulis di buku harian
adalah cara ampuh untuk membangun kepercayaan diri untuk menuangkan gagasan.
Berdasarkan
kajian salah satu guru menulis saya, Mas Bambang Trimansyah, sifat tulisan terbagi ke dalam 4 sifat,
yaitu:
1. Pribadi tertutup,
yakni tulisan bersifat sangat pribadi dan cenderung dirahasiakan agar tidak
dibaca atau terbaca oleh orang lain. Tulisan ini biasanya berupa diari,
surat-surat pribadi, ataupun catatan-catatan rahasia.
2. Pribadi terbuka,
yakni tulisan bersifat pribadi ataupun sangat pribadi, tetapi dibiarkan ataupun
disengaja untuk dibaca orang lain. Tulisan semacam ini muncul akibat
perkembangan teknologi informasi, terutama di dunia internet. Tulisan-tulisan
di blog, situs, ataupun media sosial cenderung banyak yang bersifat pribadi,
subjektif, dan kadang malah dibuat sesuka hati.
3. Publik terbatas,
yakni tulisan yang ditujukan untuk konsumsi orang banyak, tetapi dalam lingkup
terbatas, misalnya lingkup komunitas, lingkup keagamaan, ataupun lingkup sesama
teman yang saling kenal.
4. Publik terbuka,
yakni tulisan yang ditujukan untuk konsumsi orang banyak secara terbuka dan
luas meskipun menyasar pada segmen pembaca tertentu. Tulisan ini bebas dibaca
siapa pun yang berminat.
Sifat
menentukan untuk siapa tulisan Anda tujukan. Pada sifat pertama Bapak Ibu
menulis, tetapi hanya Bapak Ibu sendiri yang membacanya. Sifat 2, 3, dan 4
adalah tulisan yang ditujukan untuk publik sehingga Anda perlu menimbang tujuan
penulisan dan pembaca sasaran.
Nah
menurut Bapak Ibu, menulis di media masa termasuk sifat tulisan yang mana?
Opini
merupakan jenis tulisan nonfiksi, ranah jurnalistik, dan sifat tulisannya
publik terbuka.
Sebelum
bicara lebih teknis untuk membuat tulisan, ada beberapa hal penting yang harus
diperhatikan agar tulisan kita memiliki ruh atau jiwanya. Menurut Mas Fauzil
Adhim, ada 6 aspek yang harus
dikembangkan agar tulisan kita memiliki jiwa.
1. Tulisan
akan memiliki jiwa saat penulis memiliki visi hidup (cita-cita dan harapan),
2. Melibatkan
emosi saat menulis,
3. Luas
wawasannya (banyak membaca, berdiskusi, jalan-jalan),
4. Berbagi
pengalaman hidup nyata yang pernah dialami,
5. Menggunakan
nalar atau logika yang tepat, dan
6. Tulisan
sebagai hasil perenungan yang mendalam tentang apapun yang akan ditulis.
5 Proses Menulis :
1.
Menggagas:
Berpikir dan Merencanakan:
a. Mengumpulkan
bahan referensi
b. Menentuian
pembaca sasaran
c. Mengembangkan
ide menjadi kerangka
2.
Menyusun
draf:
a. Menulis
bebas
b. Memasukkan
bahan yang relevan dengan pengalaman diri, pengalaman orang lain, latar
belakang ilmu dan pengetahuan yang dimiliki
c. Memasukkan
data dan fakta
d. Mengembangkan
gaya penulisan yang tepat sesuai pembaca sasaran
3.
Merevisi:
Meninjau
(memeriksa) kembali untuk perbaikan4. Menyunting: Memastikan Tidak Ada Kesalahan
Memperbaiki
tulisan dari aspek tata bahasa, ketelitian data dan fakta, kesantunan. Tak
boleh ada kesalahan elementer.
5.
Menerbitkan:
Menentukan
publikasi tulisan pada media yang tepat serta pembaca yang tepat. Bapak Ibu
dapat memilih media daring atau media cetak.
Di
luar teknis menulis yang disampaikan di atas, faktor nonteknis seperti:
a. disiplin
menulis, b. tak pantang menyerah mengirimkan tulisan ke media meski sering ditolak dan tak dimuat, juga
c. tak berhenti belajar meningkatkan keterampilan menulis.
Jauh
sebelum tulisan saya dimuat di rubrik opini dan Hikmah Republika, sejak tahun
2007 saya konsisten menulis di Republika Online. Nah ini jadi faktor nonteknis,
punya jalinan silaturahim dengan para
redaktur di media masa. Kita mendapatkan informasi dan masukan dari para
redaktur agar kualitas tulisan lebih baik dan potensial dimuat di media cetak.
Izin
saya bagikan beberapa tulisan saya yang dimuat di rubrik opini dan hikmah
Republika, Bapak dan Ibu guru hebat.
Saya
cukupkan penjelasan sampai di sini. Selanjutnya kita bisa berdiskusi Bapak dan
Ibu.
Tanya Jawab:
1. Bagaimana
menyiasati agar waktu menulis dan tema kita sesuai dengan waktu kirim/moment yang
tepat?
“Kita harus sensitif dengan momentum yang akan
terjadi, misal, 6 hari lagi merupakan momen Hari Kebangkitan Nasional. Nah,
dari sekarang mulailah menyiapkan bahan
belanja gagasan, tentukan ide yang akan ditulis, dan tuliskan dan kirimkan
tulisannya paling lambat sehari sebelum tanggal 20 Mei.”
2. Apa
syarat tulisan opini atau artikel bisa layak cetak di media?
“Syarat paling utama adalah ide orisinal dan
menarik, data dan fakta yang disajikan sahih, tata bahasa baik, dan sesuai
dengan kriteria dari redaktur media cetak.”
3. Pertanyaan
saya bagaimana menyiasati ketidakpercayaan diri atas tulisan yang sudah kita
tulis?
“Bapak coba konsisten menulis dulu di buku harian
atau personal blog yang bersifat pribadi. Nanti jika sudah mulai percaya diri,
publikasikan tulisan kita. Jangan takut mendapat kritikan dan masukan dari
pembaca terhadap tulisan kita. Karena justru hal tersebut bisa menjadi cermin
untuk kita terus meningkatkan kualitas tulisan.”
4. Bagaimana
mengasah emosi dalam kepenulisan sehingga tulisan kita bisa berkualitas ?
“Tuliskan sesuatu yang benar-benar pernah dialami
oleh diri sendiri. Saya pernah membuat tulisan di rubrik Hikmah Republika saat
istri saya wafat. Wah susah memulai kata pertama dan menutup kata terakhir
karena saya ada rasa yang hadir menemani saat membuat tulisan.”
5. Apa
saja yg menyebabkan tulisan sering di tolak media masa dan bagaimana cara
menulis yang bisa diterima media masa?
“Tulisan yang pasti ditolak media adalah yang tidak
mengikuti kaidah yang sudah ditetapkan media. Misal, kita menulis sesuatu yang
bersifat SARA, gagasan terlalu umum, batas maksimal karakter tak diindahkan
oleh kita.”
6. Bagaimana
ciri artikel yang menarik untuk diterbitkan?
“Ide tulisan orisinal, aktual dengan situasi
kekinian di masyarakat, tata bahasa baik, data dan fakta penunjang gagasan
lengkap dan sahih.”
7. Apakah
ada kriteria pembeda antar media cetak untuk bisa menerbitkan suatu tulisan
Bapak?
“Setiap media cetak punya kebijakan sendiri terkait
standar tulisan yang akan mereka terima. Misal, tulisan Hikmah Republika tak
ada di media cetak lain. Rubrik Hikmah khas punya Republika. Jadi, kita harus
pelajari secara cermat rubrik-rubrik yang ada di setiap media cetak agar kita
bisa tepat memilih media mana untuk menerbitkam tulisan kita.”
8. Saya
mulai menulis dari bentuk-bentuk fiksi yang diksinya penuh majaz dan ketika saya
mncoba ke non fiksi yang ilmiah saya kesulitan. Apa solusinya kira-kira pak?
“Saran saya, Bapak mulai pelajari tulisan-tulisan
opini yang dimuat di media, lalu coba buat tulisan bergenre nonfiksi. Ala bisa
karena biasa, Pak Candra. Hal paling penting dalam tulisan opini (nonfiksi)
adalah tata bahasa baku dan pemilihan diksi yang bermakna lugas.”
9. Bagaimana
caranya supaya ide yang sudah kita miliki menjadi sebuah judul yang menarik
untuk dibuat suatu tulisan, karena kadang terlintas ide tetapi susah sekali
mencarikan judul yang tepatnya untuk ide tersebut?
“Ada beberapa pendekatan saat menulis. Ada yang langsung menetapkan judul, lalu membuat
tulisan. Tetapi ada juga yang sebaliknya, buat tulisan dulu untuk menguraikan
idenya, judul bagian terakhir. Saran saya menulis dulu, nanti judul diputuskan
terakhir. Boleh minta pendapat ke guru menulis atau rekan sejawat terkait
pilihan judul dari tulisan yang sudah dibuat.”
10. Sebagai
pemula bagaimana Cara kita mengatasi hambatan yang disebabkan oleh kesulitan
dalam mengalirkan gagasan tersebut Pak. Selain kita berlatih terus tentunya?
“Hambatan paling mendasar kita sulit mengalirkan
gagasan karena gagasan yang mau diungkapkan belum jelas. Persoalan lainnya,
kita kekurangan bahan untuk menunjang penyelesaian tulisan kita. Hal lain yang
juga kerap terjadi, saat menulis, kita menempatkan diri dalam 2 peran sekaligus
sebagai penulis juga editor. Saat menulis, lalu diedit, kita berhenti. Balik
lagi ke awal. Terus terjadi seperti itu. Alhasil gagasan kita lewat tulisan tak
selesai-selesai. Itu pengalaman pribadi dan masih juga terjadi pada diri saya”
11. Apakah
artikel-artikel yang saya buat dapat diberikan angka kredit dalam penyusunan
DUPAK ke IV.b ?
“Saya kurang paham terkait hal ini. Sejauh pemahaman
awam saya, tulisan yang dimuat di media masa, makalah yang dimuat dan
dipresentasikan di seminar nasional atau internasional, dan makalah yang dimuat
di jurnal terakreditasi nasional bisa menyumbangkan angka kredit yang
bermanfaat untuk kenaikan pangkat. Saya punya dosen pembimbing yang sangat
produktif berkarya tulis, sekali menulis 2 judul makalah untuk satu event
seminar nasional. Kalau semua karya tulis didokumentasikan dengan baik, belajar
dari kiprah dosen pembimbing saya, beliau naik pangkatnya cepat sekali. Kata
kuncinya: konsisten berkarya tulis. Naik pangkat itu bonusnya. Alhamdulillah”
Faktor nonteknis dalam
menulis:
“disiplin
menulis, tak pantang menyerah mengirimkan tulisan ke media meski sering
ditolak dan tak dimuat, juga tak berhenti belajar meningkatkan
keterampilan menulis.”
Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Suminar















Komentar
Posting Komentar