Belajar dari Pengalaman Omjay




Materi              : Ketika Bukumu Ditolak Penerbit Mayor
Narasumber     : Wijaya Kusumah, M.Pd.

Materi kali ini, dari Narasumber dan pembimbing kita yang baik hati. Yang selalu setia dan tulus hati, melayani semua keluh kesah dan menjawab pertanyaan. Selalu memberi motivasi. Dan selalu memberi ide ide yang bagus.

Mengawali materinya Omjay menyampaikan:
Berhubung narsum pak Edi Arham berhalangan hadir karena ada rapat mendadak,  maka siang ini omjay yang langsung menjadi nara sumbernya, pukul 13.00-15.00 WIB dengan tema “Ketika Bukumu diTolak Penerbit Mayor.”

Assalamu alaikum Warahmatullahi wabarakatuh
Selamat siang guru guru hebat Indonesia. Senang rasanya bisa berbagi pengalaman dan pengertahuan kepada anda semuanya siang hari ini. Pada siang hari ini, omjay akan berbagi pengalaman tentang kisah nyata omjay ditolak penerbit mayor.

Sedih rasanya bila buku yang kita tulis ditolak oleh penerbit. Saya sendiri pernah merasakannya. Makan tak enak, tidurpun tak nyenyak. Sakitnya tuh di sini! (sambil mengelus dada) hahaha. Lebih baik sakit gigi daripada sakit hati ini, hihihi.

Namun perlu anda ketahui. Saya termasuk orang yang pantang menyerah. Ketika naskah buku saya ditolak para penerbit mayor, saya tidak putus asa. Saya akan menerimanya dengan lapang dada. Saya menerimanya dengan senyuman meskipun terasa pahit.

Berkali kita gagal lekas bangkit dan cari akal. Berkali kita jatuh lekas berdiri jangan mengeluh. Jadilah guru tangguh berhati cahaya. Kegagalan adalah awal dari sukses yang tertunda. Gembirakan dirimu dengan terus belajar kepada orang-orang yang telah sukses menerbitkan bukunya.

Saya perbaiki tulisan saya. Kemudian saya baca kembali. Beberapa teman yang saya percaya , saya minta untuk memberikan masukan. Hasilnya buku saya menjadi lebih baik dari sebelumnya dan lebih enak untuk dibaca. Sakit hati ini terasa terobati.

Ibarat seorang mahasiswa S1 yang skripsinya dipermak habis sama dosen pembimbingnya. Ibarat mahasiswa S2 yang tesisnya ditolak promotornya dan ibarat mahasiswa S3 yang ditolak proposal desertasinya.

Saya sangat berterima kasih kepada para penerbit yang sudah menolak buku yang saya susun.  Dengan begitu buku yang saya susun menjadi layak jual. Coba kalau seandainya naskah buku saya langsung diterima, pasti banyak yang tidak laku karena isinya kurang menarik hati pembaca. Buku saya terbit tapi tidak banyak pembelinya, karena bukunya tidak menarik hati pembaca.

Saya jadi banyak belajar semenjak buku ditolak penerbit mayor. Saya perbaiki dan terus perbaiki sehingga naskah buku menjadi lebih enak dibaca. Butuh waktu lama mengerjakannya. Saya pantang menyerah. Saya belajar dari penolakan. Saya pergi ke toko buku dan membaca buku-buku best seller. Dari sanalah saya akhirnya tahu rahasia buku mereka laris dibaca pembaca.

Saat itu saya semakin menggebu-gebu semangatnya. Ibarat perahu yang sudah berlayar tentu pantang untuk kembali ke pelabuhan. Jalan terus sampai tujuan walaupun akan banyak ombak besar menghadang. Tidak ada nahkoda ulung yang tidak melalui lautan yang berombak ganas. Justru disitulah keahliannya teruji.

Ketika bukumu ditolak penerbit, teruslah menulis dan jangan berhenti menulis. Ketika engkau terus menulis, maka tulisanmu akan semakin tajam dan nendang. Pasti tulisanmu akan layak jual. Pasti tulisanmu akan banyak dibaca orang. Aha kuncinya satu mau belajar dan pantang menyerah.

Perbaiki dan terus perbaiki sehingga penerbit mayor mau menerbitkan bukumu tanpa kamu keluar uang satu senpun. Kamupun tersenyum ketika royalti bukumu mencapai angka yang fantastis. Puluhan bahkan ratusan juta rupiah kamu dapatkan bila bukumu laku keras. Seperti royalty buku yang kami terima saat ini.

Pertanyaan dan jawaban:
1.       Sebenarnya apa dasar alasan penerbit menolak tulisan yang kita ingin kita berikan, Selain itu bagaimana kita memiliki rasa percaya diri bahwa tulisan kita menarik, sudah sesuai enak dibaca?
“Dasarnya karena tulisan kita kurang sesuai dengan standart penerbit, dan biasanya calon penulis baru begitu sangat menggebu gebu dan sangat yakin bukunya akan laku. Rasa percaya diri itu dibangun mlalui proses terus menerus, dan jatuh bangun. Seperti anda belajar sepeda, awalnya agak susah naik sepeda. tapi kalau sudah bisa mah enak enak saja, hehehe.”
2.      Omjay waktu dulu langsung menulis buku pelajaran atau menyusun modul dulu?
“Dua duanya saya lakukan.”
3.      Omjay apa dasar utama omjay memilih untuk jadi penulis?
“Pekerjaan menulis adalah pekerjaan menuju keabadian. kita sudah mati tapi buku kita abadi, contoh karya buya hamka.”
4.      Omjay apakah pengalaman ini ada omjay bukukan?
“Ada dalam catatan harian seorang guru blogger dan di blog omjay.”
5.      Bagaimana cara menerbitkan buku dari kumpulan resume yang telah kita buat? Saya ingin menerbitkannya, tapi bagaimana caranya? Ditawarkam kepada siapa?
“Segera kumpulkan dari pertemuan pertama sampai terkhir, gabung dalam satu file. kemudian lihat buku-buku yang sudah diterbitkan penerbit Andi, kemudian tawarkan ke penerbit Andi Yogya.”
6.      Sejak mengikuti belajar menulis tak terasa tulisan terus bertambah, hanya saya masih bingung arahnya mau ke mana temanya, jadi bagaimana caranya supaya kita tidak ragu untuk bisa menulis sampai terbit buku?
“Fokus untuk menulis buku motivasi dan kisah insoiratif karena buku ini masih banyak pembelinya.”
7.      Om Jay Untuk pertama menerbitkan buku yang sudah siap terbit ( judul siap, daftar isi, kata pengantar, isi sudah diedit, boidata penulis) langkah selanjutnya bagaimana kirim ke Om Jay lalu ke penerbit?
“Dulu saya kirimkan dalam bentuk cetak dan dijilid, setelah itu saya tawarkan ke penrbit, tapi sekarang penerbit yang cari saya, sehingga saya cukup kirim email saja ke penerbit. Bisa gak kita lakukan sekarang. Langsung  lewat email. bisa, kirimkan ke omjaylabs@gmail.com,  nanti omjay bantu ke penerbit andi.”

Ini contoh buku yang ditolak penerbit mayor. Kami tidak putus asa dan terus bersemangat untuk memperbaiki isi bukunya. Alhamdulillah akhirnya diterima penerbit mayor. Berkat buku ini, kami keliling Indonesia untuk berbagi ilmu PTK.
8.      Omjay, kalau menerbitkan buku di penerbit indie dengan biaya sendiri apakah ada fasilitas layout buku layaknya buku yang diterbitkan di penerbit mayor. Soalnya kemarin saya menerbitkan buku pelajaran di penerbit indie dengan biaya sendiri isi materi tidak di ubah sama sekali tata letaknya sehingga bukunya tidak menarik.
“Ada, tapi kita perlu keluar uang, kalau di penerbit mayor kita tinggal terima beres. Bahkan cover dan layoutnya sangat menarik sekali, sehingga banyak orang yang beli bukunya.”
9.      Om Jay Kalau kita bayar untuk menerbit satu buku berapa ?
“Tergantung penerbitnya, kalau di penerbit Andi tidak bayar.”
10.  Untuk fokus menulis buku, boleh kah kita hanya monitor saja tidak harus fokus menyimak dan membuat resume perkuliahan selanjutnya. dan kalau draf bukunya sudah jadi apakah kita boleh berhubungan langsung dengan penerbit?
“Silahkan saja, tapi anda tidak berlatih menulis, padahal menulis itu sebuah keterampilan yang harus terus menerus diasah setiap hari, ikatlah ilmu dengan cara menuliskannya.”

Pada intinya, semua butuh proses. Menulis dan teruslah menulis. Jika buku yang kita tulis ditolak oleh penerbit mayor, janganlah pasrah dan putus asa. Kegagalan adalah awal dari suatu keberhasilan. Kita harus bangkit, dan perbaiki lagi. Sehingga karya kita menjadi bagus dan diterima oleh penerbit dan juga pembaca.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Suminar

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

ROHIS JUMAT SDN TOTAL PERSADA

Menciptakan Pola Belajar yang Efektif dari Rumah

KEPEDULIAN "PROJEK PROFIL PELAJAR PANCASILA" SDN TOTAL PERSADA