PENGALAMAN MENERBITKAN TULISAN
PENGALAMAN
MENERBITKAN TULISAN DI PENERBIT MAYOR
Narasumber : Ukim Komarudin, M.Pd.
Moderator : Bambang Purwanto (Mr. BamS)
Resume
oleh : Suminar, S.Pd.SD
Assalamu
alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Pagi
tadi hujan gerimis, dan siang ini awan gelap menutup cahaya matahari. Redup,
sejuk, enak sekali untuk berdiam diri di rumah. Dan matapun rasanya ingin
terpejam. Tapi, itu tidak mungkin. Karena mata harus terpaku di depan Laptop.
Laporan Pembelajaran Jarak Jauh harus segera dikirim.
Alhamdulillah,
Laporan PJJ pun selesai dan sudah di upload. Tiba saatnya mengikuti kuliah
online belajar menulis bersama Omjay. Materi kali ini tentang “Pengalaman
Menerbitkan Tulisan di Penerbit Mayor”. Bapak Narasumber kita, Bapak Ukim Komarudin, M.Pd. Beliau penulis buku
best seller “Guru Juga Manusia”
Mr.
BamS menyapa, Selamat siang semuanya. Guru guru hebat Indonesia. Alhamdulillah
hari ini kita kedatangan Pemateri yang luar biasa. Kita sapa Bapak Ukim. “Bapak
Ukim bagaimana kabarnya?”
“Baik,
Mr. Bams. Sehat. semoga Mr. Bams juga ya. Semoga teman-teman semua juga dalam
kondisi sehat wal afiat.” Alhamdulillah.
Saya
sangat berterima kasih kepada panitia yang telah memberikan kesempatan kepada
saya untuk berbagi. Saya masih belajar. Jadi mohon maaf apabila yang saya
sampaikan sederhana. Semangat berbagi, yang menyebabkan saya berani berbagi
dalam kesempatan seperti ini. Mohon doanya, semoga bermanfaat.
A.
MENULIS
MERUPAKAN EKSPRESI PRIBADI
Saya
berpikir, menulis merupakan ekspresi
pribadi saya. Oleh karena itu, saya merasa sangat penting agar saya
memiliki tempat mencurahkan segala kegelisahan atau apapun bentuknya. lalu saya
menemukan menulis adalah sarana yang
tepat buat saya. Saya tak pernah merasa khawatir, terkait dengan kualitas
tulisan saya. Saya juga tidak perduli
dengan ragam atau apa yang menjadi trend di masyarakat. Pokoknya
menulis. Menulis adalah kebutuhan.
Saya merasa menemukan lebih tentang "saya" dengan menulis. Demikian
hal itu terus berjalan hingga jika tidak dilakukan seperti ada sesuatu yang
hilang. Demikianlah saya menulis dengan
jujur, sejujur-jujurnya. Apa adanya.
Selain
menulis apa adanya, saya pun menulis apa
saja. Karena saya guru, saya menulis terkait:
a. pelajaran,
b.
beragam kegiatan berupa proposal,
c.
liputan kegiatan yang harus dituliskan
di majalah, dan
d. menulis
buku harian. Begitu setiap saat diisi oleh menulis.
B.
AWAL
MULA MEMBUKUKAN TULISAN-TULISAN
Hingga
sampai suatu hari, tulisan-tulisan itu mulai dilirik orang-orang terdekat, yang
dalam hal ini teman-teman guru. Satu dua teman berkomentar bahwa tulisan saya
bagus. Istilah mereka, tulisan saya emotif.
Kata mereka juga, tulisan saya dapat membuat pembaca larut dalam cerita. Ada
juga yang mengatakan bahwa bahasa saya sederhana dan mudah dicerna oleh
pembaca. Ada juga yang mengaku bahwa sepenggal tulisan saya dapat dijadikan
ceramah atau kultum, dsb.
Karena
komentar tersebut, saya mencoba membukukan tulisan-tulisan saya yang selama ini
merekam semua kejadian, karena saya memang senang membuat buku harian. Ada
beragam kejadian, tetapi tema besarnya, yang saya tuliskan merupakan pelajaran
seorang dewasa (guru) dari anak-anak "cerdas" yang menjadi siswanya.
Oleh karena tulisan itu beragam kejadian, beragam waktu, dan dari beragam
tokoh, maka saya menuliskan judul buku tersebut, "Menghimpun yang Berserak." Sebuah usaha untuk mengumpulkan
segenap mutiara yang berserakan dalam kehidupan yang sangat bermanfaat bagi
saya, dan semoga bermanfaat pula buat orang lain (pembaca).
Demikianlah
waktu itu, saya yang kebetulan menjadi penanggung jawab penerbitan buku di
sekolah menyisipkan karya pribadi, selain karya bersama (berlima) menulis dan
berupaya buku mata pelajaran.
C.
PROSES
HINGGA MENERBITKAN BUKU DI PENERBIT
1. Interview oleh Editor
Saya diinterview
terkait dua bagian buku. Pertama, buku bersama yakni buku mata pelajaran.
Kedua, buku pribadi saya, "Menghimpun yang Berserak." Dalam
kesempatan interview itulah saya banyak mendapatkan pengetahuan terkait tips
dan trik menerbitkan buku.
Saya
banyak mendapatkan pelajaran menyangkut hal-hal yang tadinya tidak saya
pikirkan. Pelajaran atau informasi itu awalnya, membuat saya tidak nyaman
karena menabrak prinsip menulis saya. Umpamanya:
a. "Apakah
ketika saya menulis buku"menghimpun
yang Berserak" ini sudah memperkirakan akan laku di pasaran?"
b. Kalau
sudah ada, apakah buku saya punya nilai
tambah sehingga pembaca melirik dan membeli buku saya?
c. Untuk
kepentingan pasar, "Apakah saya bersedia apabila beberapa hal terjadi
penyesuaian (diganti)? dst.
Terus terang, saya merasa kurang nyaman dengan interview
itu. Saya merasa diam-diam mulai "dipenjara". Inikan ekspresi pribadi
saya, mengapa orang lain bisa mengatur hal-hal yang sangat privasi?
Menyebalkan! Begitu, oleh-oleh pulang dari interview.
Saya yang tersadar
mendapatkan ilmu pengetahuan lebih. Ketika beliau menjelaskan tentang tim yang akan menyebabkan karya saya
dapat dinikmati orang banyak. Beliau menjelaskan bahwa yang menanyai saya itu
mungkin editor. Sebab, beliaulah
garda depan yang menentukan naskah itu layak diterbitkan atau sebaliknya.
Menurut teman saya itu, naskah saya sepertinya
punya potensi atau "layak" untuk diterbitkan. Tetapi sebagai
pemula, karya saya memang harus dipoles di sana sini.
2.
Tim
Editor
Jika nanti naskah itu
bisa melewati editor, maka proses
"menjadi" memang mengalami banyak hal. Ada bagian gambar sampul,
ilustrasi, photo jika diperlukan, tata letak, dan lainnya. Yang jelas, semuanya
merupakan tim saya. Kasarnya, semuanya akan menyukseskan saya, begitu teman
saya meyakinkan saya.
3.
Pertemuan
dengan penerbit
Oleh-oleh itulah yang
menyebabkan saya menindaklanjuti pertemuan dengan penerbit. Selain hal-hal yang
umum tentang buku mata pelajaran yang ditulis bersama, saya mengkhususkan
pikiran ke buku "Menghimpun yang berserak". Yang menenangkan, editor
menceritakan bahwa semua hal menangkut buku saya selalu dalam konfirmasi.
Artinya, semuanya akan terjadi jika saya setuju.
4.
Kontrak
kerjasama
Demikianlah saya
menjelani proses, hingga akhirnya ada proses sebelum naik cetak, yang sangat penting dalam proses kreatif
saya, yakni menerima dami atau calon buku yang sama persis jika akhirnya bisa
dicetak. Saya gembira sekali menerima buku dami itu. Terus terang saking
gembiranya, saya menandatangi saja kontrak kerjasama tanpa membaca persentase
yang kelak saya terima. Diduga sikap itu bukan sembrono, tetapi karena memang
saya menulis bukan untuk hal tersebut.
5.
Terbitnya
Buku
Akhirnya, saya mendapat
konfirmasi ketika saya dapat kabar bahwa ada meeting terkait dengan terbitnya
buku saya.
Pertama,
saya menerima buku pribadi, kalau tidak salah jumlahnya hanya 5 buku. Buku
tersebut berstempel tidak diperjual belikan.
Kedua,
saya diajak bicara terkait dengan teknis launching Buku "Menghimpun yang
Berserak". Ini soal bagaimana membuat buku saya laku. Saat itu saya sangat
bodoh dan kurang dapat memberikan masukan yang berarti.
Ketiga,
saya diberitahu bahwa penerbit menerbitkan jumlah yang diterbitkan pada
penerbitan pertama ini dan kurang lebih 6 bulan kemudian saya baru akan
mendapat royaltinya. Untuk tersebut juga saya tidak pandai memberi masukan.
6.
Memasarkan
Buku
Peran saya kemudian
adalah mengusahakan buku saya dapat dinikmati orang lain. Kala itu agak sulit
karena media sosial belum sedasyat sekarang. kebetulan saya pembicara, saya
berupaya menjual buku-buku saya pada kesempatan bicara tersebut.
Ada
beberapa kejadian menerbitkan buku kembali, kedua, ketiga, keempat, dan
seterusnya hingga yang menjelang terakhir buku, "Arief Rachman Guru".
Semuanya mirip-mirip pengalaman dengan penerbit. Kurang lebih, seperti itulah
kira-kira. Mohon maaf apabila kurang lengkap. semoga dapat dilengkapi ketika
nanti tanya jawab.
Catatan dari hasil diskusi:
1. Ada
kriteria yang dianggap layak, untuk diterbitkan. Khususnya terkait buku mata
pelajaran, biasanya mereka mencari buku:
a. menunjukkan
penggunaan pendekatan baru;
b. lebih
lengkap;
c. penulisnya
memang berkualifikasi luar biasa;
d. Naskah
renyah (enak dibaca); dan
e. diutamakan
dari hasil penelitian lembaga-lembaga pendidikan terbaik.
2. Saya
tipe penulis. Mungkin, lebih banyak buku yang tidak saya terbitkan daripada
yang saya terbitkan. Saya memang bukan tipe pandai menjual ide. Saya senang
menulis. Yang menarik buat saya tulis, ya saya tulis. Tak peduli tak dilirik
penerbit. Tapi Allah maha pengasih. Beberapa sering dilirik penerbit dan jadi
berkah buat keluarga.
3. Ketika bertemu penerbit saya sudah bawa naskah utuh. Dari naskah itu kita mulai
bicara. Saya sering diminta menulis terus oleh beberapa penerbit karena
beberapa buku saya yang dipergunakan di lembaga pendidikan terbit terus.
mungkin sekarang sudah jilid belasan.
Masalahnya di pembagian waktu atau prioritas. kelemahannya juga ada di saya. Pribadi
saya kurang bisa kompromi. Tapi percayalah, dari karya Bapak yang
sungguh-sungguh akan ada tawaran berikutnya. Masalahnya, Bapak berkenan membagi
waktu dan prioritas.
4. Ada
yang disebut, Premis (tema besar).
Biasa terdiri atas satu paragraf. Hebatnya, ia adalah sebuah headline yang
memegang pergerakan ide, tokoh, dan alur cerita. Penulis hebat memulai dari itu.
Percayalah, jika tidak memulia dari situ, kemungkinannya kalah tenaga, atau
ngawur kemana-mana.
5. Saya tipe orang yang sering
menyembunyikan karaya jika belum final. Saya orang teater, pak. Saya suka
membuat kejutan dengan membina puncak-puncak cerita. termasuk di sini kelahiran
anak (karya) saya yang mengejutkan.
6. Permasalahan
penulis pemula sering serakah. Jadi penulis sekaligus editor. Akhirnya, nggak
jadi-jadi. Baru satu bab dikoreksi. Baru lima lembar disalahkan sendiri. Ya
Ambyar. Tulis saja, nanti ada jurinya: diri sendiri, teman penulis, dan
akhirnya editor. Jika mereka menganggap tulisan nggak laku di pasaran, tapi kita
bilang itu bagus tak apa. Ada suatu masa yang dikatakan banyak orang jelek,
saat itu malah dicari dan dibenarkan orang.
7. Mulailah
menulis dengan membaca buku-buku yang diduga akan mirip ekspresi bentukannya
seperti buku yang akan kita buat. Ketika kita datang ke perpustakaan atau toko
buku, kita membaca untuk mendapatkan inspirasi. kadang-kadang, saya membeli
buku atas tujuan seperti itu, Pak.
8. Penulis yang baik memang pembaca yang
baik. Banyak-banyaklah membaca sehingga akan mampu menulis. Saya setuju dengan himbauan menulislah setiap hari. Tapi
tolong disertai membaca agar tulisan kita berkualitas. Itu hukumnya, Het. Menulis (produktif)
pasokannya adalah membaca (receptif). Manulis saja. Dengarkan respons dari
sekitar. Kita memang membutuhkan orang yang membuat kita terlecut menjadi lebih
baik.
9. Pada
akhirnya kita akan menjadi diri kita sendiri. Termasuk dalam hal karya. Kita
akan menemukan warna, tipe, dan kekuatan sendiri dalam menulis. Ketika
teman-teman kita memuji tulisan kita, maka di saat itulah kualitas naik ke
permukaan. Teruskan dan pupuk kekuatan itu. Sampai kalau serpihan tulisan kita
terjatuh di jalanan, ada seorang teman yang mengatrakan kepada Anda bahwa ini
tulisan milik Anda. Kita akan bertanya, "kok tahu sih ini tulisan
saya?" Dia kan jawab, "Saya sudah hapal itu Gaya anda."
Tema-teman
yang baik. Ada kehebatan dari seorang
penulis. Ia jelas ekspresinya. Ia juga punya daya jangkau dakwah yang lebih
luas dalam menebar kebaikan. Ia juga punya legacy
atau warisan untuk pertinggal jejak kebaikannya, yakni tulisannya.
Menulislah, setiap hari. karena anda akan menemukan kebahagiaan; menulis
berarti kita MENCIPTAKAN SEJUMLAH KEBAIKAN. (Mohon atas segala kesalahan).
Alhamdulillah,
pembelajaran yang luar biasa. Bermula dari curahan ekspresi diri, menulis
sebagai medianya. Sehingga terbiasa dan mnulis menjadi suatu kebutuhan. Butuh
untuk menunangkan apa saja dan apa adanya. Dan pada akhirnya, orang akan
mengenal itu gaya tulisan kita.
Wassalmu
‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Suminar

Luar bisa bu minar... sangat inpuratif
BalasHapus